Sabtu, 13 Agustus 2011

Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan


MENSYUKURI NIKMAT KEMERDEKAAN
Assalamualaikum wr.wb
            Alhamdulillah hirabbil’alamin wabihinastain wa’ala umuriddun’ya waddin wa’alaa aalihi wasahbihi wassalam ammaa ba’du.
            Kepada bapak , ibu pejabat yang saya sayangi dan saudara-saudara semua yang saya sayangi dan saya banggakan.
            Marilah bersama-sama kita panjatkan puja serta puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang mana telah memberikan rakhmat dan hidayahnya kepada kita semua.
            Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas mengenai Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan. Agama Islam sangatlah memiliki hubungan yang erat dengan kemaerdekaan , karena Islam lah yang telah mensugesti kepada para pejuang untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Islam telah memberikan iman kepada tanah air dan islam pun telah mengajarkan cinta pada tanah air. Namun realita saat ini tampaknya sudah tidak demikian, karena apa? Banyaknya anak bangsa yang mengatakan cinta tanah air tetapi malah menghancurkan tanah airdengan sendirinya melalui korupsi, tindak kejahatan dan hukum yang tidak adil di negeri ini. Negeri ini telah dipenuhi oleh orang-orang yang tidak bermoral, hukum sudah seperti kapak yang tumpul keatas tapi lancip ke bawah. Hukum bagaikan pelacur yang dapat dipermainkan dengan uang. Seberapa bobrok kah moral dinegara ini?
            Negara ini sangatlah memerlukan pendidikan moral, bukan hanya pendidikan ilmu pengetahuan. Perlu adanya keseimbangan antara ilmu dan moral untuk pengurus dan penerus bangsa ini. Oleh karena itu pesantren sangatlah penting untuk tempat menimba ilmu, sebagai tempat pemupuk moral serta sebagai kantong perjuangan melawan penjajah. Begitu juga dengan instansi pendidikan formal (SD/SMP/SMA) haruslah demikian pula agara dapat mencetak penerus bangsa yang berkualitas dan  juga harus bermoral. Tetapi kenyataannya bidang pendidikan malah dapat ikatakan sebagai penghancur moral bangsa. Bagaimana tidak? Kita ambil contoh ketika pelaksanaan UN. Pada dasarnya diadakannya UN adalah untuk meratakan standar pendidikan di seluruh pelosok Indonesia. Tujuan ini memang sangat baik agar seluruh penerus bangsa memiliki kemampuan formal yang merata sehingga tidak ada ketimpangan sosial yang berarti, tetapi saat ini saya fikir sudah tidak demikian. UN yang seharusnya menjadi penyerataan pendidikan malah dijadikan sebagai tempat ajang contek massal. Bocoran UN telah berkeliaran dimana-mana, proses pengawasan UN pun sudah tidak seperti selayaknya penyelenggaraan UN. Sebenarnya kalau kita evaluasi, para pelajar tidak akan bisa melakukan  contek massal dengan bocoran UN apabila tidak ada yang mengelontarkan bocoran itu sendiri. Sedangkan soal UN diperoleh dari isntansi pendidikan depdiknas, bukan tidak mungkin apabila bocoran itu sendiri berasal dari depdiknas. Tapi saya harap dugaan saya ini tidak benar. Oleh karena itu trasidi mencontek sama saja telah melukai harga diri bangsa, hal ini merupakan awal dari ketidakjujuran bangsa untuk kedepannya. Apabila hal ini terus terjadi maka bukan tidak mungkin bila negara ini akan semakin hancur dan lebih banyaknya kasus tindak pidana korupsi sehingga apa yang dicita-citaka bangsa Indonesia untuk bebas dari korupsi akan semakin jauh untuk diwujudkan. Ini bukanlah hal yang tidak mungkin terjadi, karena semua sudah terlihat jelas bahwa para calon penerus bangsa seakan sudah dicekoki dengan pembodohan massal dan tidak kurang ditanamkan nilai moral dalam dirinya.
            Bayangkan seberapa besarkan pengorbanan para pejuang untuk mendapatkan kemerdekaan ini?
Banyak nyawa dikorbankan untuk memperolah kemerdekaan Indonesia, apakah kita sebagai masyarakat Indonesia rela apabila kemerdekaan yang telah didapat dengan susah paya ini harus kembali dijajah? Tentu saja tidak bukan? Islam sudah sangat berkontribusi dalam kemerdekaan Indonesia, kalian masih ingat Bung Tomo? Dia adalah penggerak perjuangan dinegeri ini hanya dengan kalimat ALLAHU AKBAR seluruh masyarakat Indonesia dapat terhipnotis untuk berjuang demi kemerdekaan ini. Kemerdekaan bukanlah hadiah dari Belanda, Jepang ataupun turun dari langit, melainkan dengan perjuangan darah dan nyawa para pejuang. Marilah mengisi Kemerdekaan ini dengan iman agar negara ini memiliki moral yang baik.
            Coba kita lihat seberapa pentingnya moral itu? Apabila kita perhatikan di negara ini banyak pengadilan jalanan yang merupakan hasil refleksi dari kekecewaan masyarakat atas hukum dinegara ini yangseperti kapak, itu semua adalah karena penyakit moral bangsa. Orang-orang saat ini apabila melihat orang lain hanyalah berdasarkan jabatan dan profesi, sebenarnya seluruh profesi diperbolehkan oleh Allah SWT asalkan beriman dan didasarkan atas hati yang bersih dalam melaksanakan profesinya. Tetapi lihat saat ini? Para pelindung hutan jadi pembobol hutan, pengurus minyak jadi penimbun minyak, pengelola uang rakyat jadi pemilik uang rakyat. Oleh karena itu Indonesia perlu adanya recovery dari sikap mental masyarakat . kita semua harus ingat bahwa hidup ini selalu berputar kadang bisa diatas dan kadang bisa dibawah,seluruhnya adalah titipan Allah baik harta, nyawa, anak, istri, suami dan sebagainya adalah titipan Allah SWT. Segala sesuatunya telah digariskan dan sitetapkan oleh Allah dan segala sesuatunya akan terjadi dengan kehendak Allah. Kita hanyalah menunggu giliran untuk menghadap Allah SWT.
          Kemudian yang selanjutnya dalah tentang  kemerdekaan. Kemerdekaan bukanlah akhir dari perjuangan melainkan awal untuk menata negeri inimembentuk wawasan nusantara karena Indonesia terdiri dari berbagai budaya yang telah bersatu membentuk semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Meskipun Indonesia teriri dari banyak Agama tetapi yang terpenting sebagai makhluk beragama haruslah berbudi luhur, berjiwa bersih, dan menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini sangatlah sesuai dengan Pancasila, maka dari itu pancasila diterima oleh semua agama di Indonesia karena kandungan dari pancasila sesuai dengan nilai-nilai kandungan masing-masing agama.
            Permasalahan masyarakat Indonesia saat ini adalah banyak orang yang terjebakl dalam fanatisme sempit, terlalu mengagumi seseorang bahkan sampai mengesampingkan Allah SWT. Padahal hidup dan mati kita berada di tangan Allah. Masyarakat Indonesia pun sangat mudah terprofokasi, ketika para elite bertengkar , masyarakat pu ikut-ikutan bertengkar dan mengkotak-kotakkan golongan. Padahal bangsa ini bagaikan gelas kaca, apabila sudah pecah maka tidak dapat ditambal. Begitu pula dengan suatu bangsa, apabila suatu bangsa sudah terpecah maka sudah tidak mungkin dipersatukan lagi. Contohnya adalah: Uni Soviet yang pecah menjadi negara-negara kecil, Indonesia yang pecah dari Timor Leste dan baru-baru ini Papua ingin memecahkan diri dari Indonesia. Jangan biarkan Indonesia menjadi gelas pecah. Sebagai warga negara Indonesia marilah kita rukun, kompak dan bersatu. Untuk mencapai itu semua maka diperlukannya reformasi keadilan yang hanya terdapat satu kunci yaitu jangan ada golongan I atau golongan utama karena kita adalah Bhinneka Tunggal Ika. Namun perlu kita ingat bahwa pembangunan bukanlah hanya didunia melainkan juga diakhirat karena akhirat adalah kekal sedangkan dunia ini fana. Hidup itu bukannya untuk saat ini tetapi untuk diakhirat pula. Tanamkan pada diri anda seua bahwa bekal di akhirat adalah sesuatu yang sangat penting.
            Demikian yang dapat saya sampaikan kurang lebihnya saya mohon maaf. Wabillahi taufil walhidayah Wassalamualaikum wr.wb

Created by: Yessy Gladiani Sutrisno


Tidak ada komentar:

Posting Komentar